Hari ini, sayapun terjebak trik marketing seorang pedagang kelengkeng. Ceritanya, saat bersama suami dalam perjalanan menuju rumah kolega, kami melihat seorang pedagang kelengkeng di seberang jalan. Pedagang tersebut menggelar dagangannya d atas sebuah motor. Sebagai seorang pecinta kelengkeng, spontan mata saya menoleh ke tumpukan buah tersebut. Air liur menetes membayangkan legitnya rasa buah kelengkeng yang besar-besar itu.
Ketika membaca tulisan harga buah tersebut, sontak saya bilang ke suami untuk menepikan kendaraan. Saya bilang ingin beli karena harganya kok murah sekali. Setahu saya, untuk buah sejenis diluaran harganya masih 2 kali lipat. Lagi promo pikir saya.
Ketika kendaraan kami berhenti, saya memanggil si abang pedagang kelengkeng. Dan si abang pun dengan ramahnya berkata,"Silahkan bu, klengkengnya. 35 ribu per kilo". Saya yang agak kaget dengan ucapan si abang, akhirnya menunjuk tulisan harga yg di pasang. "Lho, ditulisan 18 ribu bang?" Dan si abang pun menimpali, "Iya bu itu harga 1/2 kilo".
Mendengar hal itu, mata saya lalu melebar membaca tulisan harga si abang. Ehh.... ternyata, di tulisan harga tersebut memang ada tulisan 1/2 kg. Tapi angka 2 nya ditulis sangat kecil. Sehingga orang tidak sadar bahwa itu harga setengah kilogram buah.
Mengetahui hal itu, jujur saja saya merasa sedikit tertipu. Dan mungkin banyak lagi orang seperti saya. Tapi .... karena godaan buah kelengkeng itu lebih besar dari rasa tertipu saya, akhirnya saya beli juga.
Dalam perjalanan saya dan suami hanya bisa tertawa. Saya baru sadar bahwa pedagang kelengkeng tersebut memiliki trik marketing yang handal. Buktinya, saya membeli dagangannya meski harga yg dijual sama persis dengan toko buah lainnya 🙂
2 komentar:
pintar ya tukang dagangnya, hehehe
iya om Jay perlu ditiru idenya. Terima kasih komennya ��
Posting Komentar